Quote

I’m not a stop along the way. I’m a destination. And if you refuse to come, I’m gonna need to find a replacement,

  (Blair Waldorf, Gossip Girl)

Not An Option

Advertisements

Time Machine 2011 part 3

Standard

Career.

The third part of Time Machine 2011.

Saya bersyukur pada tahun ini telah berstatus karyawan tetap di suatu perusahaan media massa cetak. Total 1 tahun 2 bulan saya bekerja di sana. Saya sangat menikmati pekerjaan ini karena sesuai dengan latar belakang pendidikan.

Saya sempat mengalami ups and downs dalam bekerja bahkan pernah berniat resign dan melamar ke perusahaan lain. Namun, akal sehat saya masih berfungsi dengan baik ketika itu. Saya memutuskan untuk bertahan dan terus belajar memahami pekerjaan ini.

Berkat pekerjaan ini, saya berkesempatan bertemu dengan banyak orang dengan beraneka kualifikasi dan kredibilitas. Saya merasa beruntung bisa menjalin komunikasi dan meraih ilmu dari mereka.

Saya juga bersyukur pekerjaan saya ini mampu meningkatkan taraf hidup keluarga saya. Saya bisa berbagi kebahagiaan dengan keluarg dan teman-teman dekat.

Tahun depan, saya berharap mampu meningkatkan kualitas pekerjaan saya, semakin mampu beradaptasi dengan lingkungan dan situasi manapun, dan terus belajar, belajar, dan belajar.

EDW

 

Time Machine 2011 part 2

Standard

Well, this is the second part and it names Love Life section.

Saya rasa ulasan tentang Social Life tidak perlu berpanjang-lebar karena itulah yang paling mengena sepanjang tahun ini.

Meskipun saya kehilangan teman baik, saya masih diberi kesempatan bertemu dan berkenalan dengan banyak orang dari kalangan jurnalis. Saya berkenalan dengan sesama reporter yang kebetulan meliput bidang yang sama. Mereka juga berperan dalam karir saya sebagai jurnalis karena saya belajar banyak hal dari mereka dalam mendalami peliputan finansial.

Saya senang bisa bertemu banyak orang yang berpotensi menjadi teman baik selama tahun ini. I’ll keep them as long as i can, may it lasts forever, *lebay, :p

 

Love Life

“When a person that you admire secretly, becomes reachable even shows his/her caring charm to you, don’t you fall for him/her any deeper?”

Setelah tahun lalu saya mengambil keputusan “berani” untuk memutuskan hubungan “gak jelas” dengan seorang laki-laki, ternyata saya harus melakukan hal yang sama untuk kedua kali pada tahun ini.

But, this is more painful. I’m so disappointed.

Ceritanya, saya diam-diam memerhatikan seorang laki-laki, yang menurut saya, mirip dengan seorang teman. Rasanya seperti mengagumi seorang idola sekolah secara rahasia.

Namun, suatu ketika saya bisa berkomunikasi lebih intens dengan dia dibandingkan dengan sebelumnya. Kami pun terbiasa mengirimkan teks BBM dan bercerita tentang keluarga, cita-cita, derita, maupun keseharian masing-masing.

You know what i felt at that time? Beyond happiness! I couldn’t stop smiling every time i received his text. I felt like his texts really made my day.

Sampai ketika, saya mengetahui jika dia masih berstatus pacar orang. Oh gosh, i felt bad. I was afraid of becoming the third party. Jika dia punya pacar, kenapa dia terus-menerus berkirim teks dengan saya? Seharusnya, menurut akal sehat saya, prioritas utama dia dalam mengirim teks adalah pacarnya. Mengapa saya?

Dia pun menjelaskan jika dia butuh seorang teman. Baiklah, saya bersedia meneruskan berkirim teks dengan dia sebagai seorang teman.

Catatan: Kebahagiaan ketika BBM dia muncul perlahan sirna. Saya tidak boleh menyukai pacar orang apalagi merebutnya. A big no-no!

Dan.. dia berstatus single and available. What did i react? A blink of hope appeared suddenly. But i kept acting cool, 😉

Ternyata, dia tidak hanya berakrab ria dengan saya, tetapi juga dengan perempuan lain, yang sialnya saya kenal dengan baik.

Pergulatan batin pun dimulai. I felt insecure. He chose her over me when attending our favorite band’s performance. We were in the same venue but he prefer watching it with her. I felt being ditched.

He kept calling me “Dek”. For me, it sounded annoying because i didn’t want him to act as my brother.

Menurut saya, panggilan itu seakan menegaskan jika dia hanya menganggap saya sebagai “adik”-nya. It did suck, that fuckin’ ugly truth, i guessed.

Seakan Tuhan mendengar pergolakan batin saya, Dia menuntun saya menuju suatu pencerahan.

Saya akhirnya mengetahui jika dia sangat dekat dengan perempuan yang saya kenal itu. Mungkin selangkah menuju peresmian suatu hubungan pacaran. Akhirnya, saya putuskan untuk tidak menjalin komunikasi dengan dia. Saya tidak ingin sakit hati, kecewa yang mendalam karena telah dibohongi. Sebelum dia “meninggalkan” saya dan sibuk dengan pacar barunya, saya memilih mundur dengan terhormat.

 

“It’s like an early prevention, for me. 
Gw hanya mengantisipasi pola komunikasi yang kerap kita lakukan akan menimbulkan misinterpretasi di kemudian hari.
I’m afraid of falling for you, one day. While i know we can only be friends, like you said.

So, before i’m starting to expect much, i prefer to walk away from this kind of friendship. 
You treat me very well, as a friend or a brother. I don’t wanna misinterpret the way you treat me, your caring personality.”

 

Bohong jika saya takut menyukai dia karena saya sudah memendam rasa sejak pertama kali melihat dia. Saya tidak ingin dia tahu jika alasan sebenarnya adalah saya kecewa dia memilih perempuan lain.

Hingga detik ini, saya masih berusaha move on dan melupakan kekecewaan itu. Tetapi, saya masih geram ketika melihat dia dan pacar barunya di depan mata saya.

Saya sadar jika yang saya lakukan childish. Butuh waktu untuk menyembuhkan “luka” ini.

“I won’t find someone like you who likes to play the game of love. What goes around, comes around. Karma is a bitch,”

Time Machine 2011 part 1

Standard

Ketika 31 Desember tiba, semua orang berlomba-lomba menuliskan peristiwa memorable yang terjadi sepanjang tahun itu. Well, ada yang patut dikenang, ada juga yang lebih baik dihilangkan.

31 Desember 2011,

Haruskah saya memutar balik semua film memori setahun ke belakang? Saya rasa hal-hal yang patut dikenang saja yang ingin saya tuangkan melalui tulisan ini. Some i wanna keep it private.

2011

Tahun ini tidak kalah berartinya dibandingkan dengan tahun lalu. Banyak pengalaman hidup yang saya peroleh sepanjang tahun ini. Lesson to learn, to be grown up, to be a better person.

3 Things: Social life, love life, and career

 

Social Life

“A best friend won’t talk harshly about you. He/she will speak out in a calm way  in order to keep your feeling,”

Saya kehilangan seseorang yang mengakui saya sebagai sahabat terbaiknya. Pasalnya, kami terlibat “Twit War” di dunia bernama Twitter. Sesuatu yang terkesan childish tetapi inilah pertengkaran 2.0.

Saya berusaha menahan diri ketika dirinya menyebut saya “freak” dalam twit-nya. Sebenarnya, saya terkejut karena tidak mengira dia akan sekasar itu kepada saya.

Sontak kicauannya tersebut mengundang ke-kepo-an para teman yang mengenal kami. Mereka bertanya-tanya ada apa gerangan di antara kami berdua. Pang-Ping-Pang-Ping pun terdengar dari BlackBerry Curve 3G saya. BBM seragam yang menanyakan ada masalah apa.

Saya tidak ingin mengingat masalah tersebut. Pada akhirnya, dia meminta maad atas kicauannnya itu. Saya pun memaafkan dirinya. Tetapi, saya tidak ingin menjalin hubungan dia sebagai sahabat baik.

Saya memutuskan tali persahabatan yang sudah terjalin beberapa tahun ini. Saya memegang prinsip jikalau saya adalah sahabat terbaik, terdekatnya, dia tidak akan pernah mengatai atau menjelek-jelekan saya.

Lantas, apa saya membalas dendam? TIDAK! Saya tidak akan pernah menguak semua rahasianya karena jika itu saya lakukan, apalah bedanya saya dengan dirinya.

Tetapi, saya bahagia masih memiliki sahabat-sahabat yang tidak kalah baiknya dengan orang tersebut. Saat ini, dua sosok inilah yang bisa dikatakan sahabat terdekat saya, Daniel Ngantung dan Febryanty Putry.

Dinna Fitria, Astrid Ervita Sari, dan Fadila Sari tetap menjadi sahabat terbaik sepanjang masa walau saya terpisah jarak dengan mereka.

“We don’t need to communicate every time but we know we get each other in our hearts,”